Berawal dari tuturan Jokowi kemudian kalimat ini semakin
popular. Tidak hanya ramai di tagar #akurapopo
melalui twitter dan facebook, tetapi di media cetak dan elektronik pun kalimat
ini sering muncul. Seperti yang telah diketahui aku ra papa merupakan bentuk pemendekan dari aku ora apa-apa artinya ‘aku tidak apa-apa’.
Kalimat yang seharusnya lebih tepat ditulis aku ra papa selalu ditulis dengan
aku ra popo. Dalam hal ini bahasa
Jawa punya kaidah penulisan sendiri.
Kesalahan ini sering sekali saya jumpai, tidak hanya dalam
kalimat aku ra papa bahkan di kata lain
seperti aja, bisa, iya, juga sering
dituliskan ojo, biso, iyo. Bagi yang belum
tahu ejaannya, semua kata bahasa Jawa yang berbunyi alofon [ͻ] yang
seharusnya jika dalam bahasa tulis lebih tepat ditulis dengan huruf a selalu ditulis
dengan huruf o. Dalam bahasa Jawa vokal / ͻ/ yang cara pengucapannya adalah a [ͻ]
persis pengucapan vokal o pada kata “bocor” (bahasa Indonesia) disebut a
jejeg cara penulisannya ditulis
dengan huruf a.
Vokal dalam bahasa Jawa berbeda dengan vokal dalam bahasa
Indonesia. Dalam Paramasastra Gagrag Anyar Basa
Jawa Sry Satriya Tjatur Wisnu Sasangka edisi terbaru tahun 2011, bentuk
vokal/alofon bahasa Jawa ada tujuh macam, di antaranya yaitu vokal /a/, vokal /ͻ/,
vokal /o/, vokal /i/ yang dibedakan
menjadi [i] i swara jejeg dan [I]
i swara miring, vokal /u/, vokal /e/
yang dibedakan menjadi [e] e swara jejeg
dan [ɛ]
e swara miring dan vokal /ə/.
Dalam perkembangannya, kemudian di buku Tata Bahasa Jawa Mutakhir oleh
Wedhawati dkk, pengklasifikasian vokal ini dijelaskan lebih rinci dan jelas
lagi. Vokal /ͻ/ yang ditulis dengan huruf a misalnya kata amba (lebar), apa (apa), bala (kawan), kaya (seperti), sapa (siapa), dll. Ada juga huruf o dalam bahasa
Jawa yang dilafalkan [ͻ] (seperti pada kata “bocor” bahasa Indonesia) dan
penulisannya tetap menggunakan huruf o, misalnya pada kata gori (nangka muda), goroh (bohong), kori (pintu gerbang), dan beberapa nama seperti Suharto,
Waluyo, dll.
Inilah yang menyebabkan penulisan ejaan vokal /a/, /ͻ/, dan /o/
dalam bahasa Jawa di masyarakat menjadi tertukar dan menjadikannya rancu. Vokal
/ͻ/ yang seharusnya ditulis dengan huruf a, ditulis dengan huruf o, demikian
sebaliknya.
Penulisan ejaan yang kurang tepat sering sekali saya jumpai.
Selain kalimat aku ra papa yang semakin
popular, kesalahan yang sama juga saya jumpai di selebaran, baliho, dan di depan
warung-warung berlabel Jawa, misalnya bakmi
Jowo, laras roso. Harusnya lebih tepat jika ditulis bakmi Jawa dan laras rasa.
Di kamus bahasa Jawa tidak akan ditemukan kata roso, opo, dan jowo. Kesalahan yang sama juga terlihat pada penulisan
jargon yang diusung oleh Bibit Waluyo tahun kemarin. Mulih ndeso mbangun ndeso. Harusnya lebih tepat ditulis mulih desa mbangun desa. Dan di sini nasal
(N-) adalah bentuk imbuhan (mirip
dengan awalan me-) jadi penambahan pada kata desa, tidaklah tepat.
***

No comments:
Post a Comment
Menawi pamaos gadhah panyaruwe, uneg-uneg, utawi pitakonan ngenani seratan menika, kula sumanggakaken komen ing ngriki. Sumangga. Maturnuwun.