Sunday, March 23, 2014

Musim Panen dan Indahnya Berbagi dalam Tradisi

Wineh yang di tanam disebelah padi yang kian menguning.
 
Wineh ini adalah bibit untuk musim tanam selanjutnya, setelah panen musim ini.

Jadi, tadi pagi saya bingung mau ngapain, minggu-minggu bangun tidur biasanya menjelajah internet tapi karena semalam jengah dengan internet saya males balik lagi. Mau nyuci piring juga masih dingin.. hehe.. akhirnya saya megang setrika dan menggosok baju-baju yang masih berantakan. Belum separuh pekerjaan saya selesai, di luar saya dengar Mbak ribut ngomeli ponakan saya, “Gak sah melu! Sawahe adoh!” Mbakku bilang sama anaknya, nggak usah ikut sawahnya jauh. Mendengar kata sawah saya langsung keluar, pikir saya pasti ada bancaan ini kan musim panen. Langsung saya cabut setrika dan tanya Mbak, aku mau ikut bancaan. Langsung diiyakan, dan sayapun akhirnya pergi jalan kaki bareng-bareng tetangga sambil mengantongi kamera. Hehe..

“E...e...e.. bo..senenge… kanca tani yen nyawang tandurane….nyambut gawe.. awak sayah.. seneng atine… Parine lemu.. lemu……”

Teringat sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Nurhana, ketika pagi ini (23/3) saya berkesempatan menikmati pemandangan sawah. Hijau..
dan sejuk. Akhirnya bisa ngambil gambar juga…Akhir-akhir ini tetangga saya memasuki musim panen. Padi di sawah sudah mulai menguning dan ambyak. Inilah saatnya panen.

Padi yang ambruk ini dinamakan ambyak

Petani di desa saya ada yang masih memelihara tradisi. Tradisi yang sering sekali dilakukan di desa saya adalah bancaan. Bancaan untuk padi biasa dilaksanakan di waktu-waktu tertentu, biasanya sebelum dan sesudah panen . Menjelang panen, sebelum dibawa pulang padi dibancaki dulu. Seperti yang banyak orang tahu bancaan teknisnya membagi-bagi berkat/nasi untuk tetangga.  Sebelum dibagikan, tentu saja didoakan terlebih dahulu. Dan karena yang dibancaki adalah sawah dan padi bancaan-nya dibawa ke sawah, supaya padi yang akan dibawa pulang selamat, barokah, cukup, memberi manfaat untuk yang punya ladang, dan tahun depan melalui Dewi Sri (padi) Tuhan memberi rezeki lagi.

Mak Manis yang sedang menggendong bakul berisi nasi, 
lauk, dan jajanan untuk bancaan.

Nasi yang dibagi untuk yang bancaan biasanya sederhana dan tidak banyak, nasinya satu sampai dua centong, lauknya urap/gudangan, tumis kacang, tumis tempe/tahu, ikan laut yang digoreng, sebutir telur yang dipotong jadi lima belas (potongan bergantung berapa orang yang ikut bancaan), buah pisang, umbi rebus, ketupat, dan lepet dibungkus dengan daun jati.

Kata orang tua, nasi bancaan yang dibungkus daun jadi rasanya enak. Lebih enak dari pada nasi yang biasa dimasak sendiri sehari-hari karena sudah mambu donga atau sudah didoakan.

Sebakul nasi, lauk, dan jajanan yang belum dibagi.

Tetangga-tetangga yang berkumpul membagi nasi dan lauk.
 
Nasi yang sudah dibagi. 
Sedang didoakan dan sebelum doa selesai tidak boleh dibungkus dulu.

Tadi, lamat-lamat doanya saya dengarkan. Doa-doa biasanya diucapkan dengan bahasa Jawa. Ucapan pastinya saya lupa, yang saya ingat ada kata Dewi Sri, mbrokohi (memberkahi), dan ditutup dengan al-fatehah dan sholawat nabi. Sebelumnya sing nandukna/ modin yang mendoakan biasanya mengambil nganten dulu. Nganten di sini adalah beberapa batang padi yang kemudian dibawa pulang dan disimpan di lumbung padi di rumah.

Nganten yang diambil dari sawah

Waktu saya tanya berapa batang yang diambil? Kata Mbah Modin sepuluh batang. Kenapa sepuluh? Sepuluh adalah tanggalnya. Maksudnya tanggal dinyunyuk/ hari ini saat bancaan menjelang panen.
Saat bancaan di sawah biasanya juga ada buak-buakan. Biasanya ditaruh dipinggir sawah. Buak-buakannya bukan seporsi yang sama yang diterima tetangga, tapi hanya sedikit nasi lauk lengkap dan jajanan. Ini jadi rezeki tersendiri untuk yang bancaan, karena biasannya jajanannya dijadikan rebutan tetangga. Nasinya mungkin akan dimakan gelatik-gelatik sawah. Bukan hanya tetangga yang dapat berkah dan rezeki saat panen ini, gelatikpun kebagian makanan.

Buak-buaan yang masih utuh.

Buak-buakan yang jajanannya sudah diambil tetangga.

Panen di kampung saya tidak hanya menjadi rezeki bagi orang yang punya ladang. Tapi tetangga-tetangga pun ikut merasakan. Saat bancaan tetangga kebagian makanan dan setelah itu ketika dipanen/ didhos (dipisahkan antara padi dengan batang) tentunya membutuhkan tetangga lain untuk membantu. Pekerjaan ngedhos ini seharinya perorang dibayar Rp 50.000,- plus dapat sarapan, makan siang, dan jameyan (kopi dan jajanan) di sore hari, untuk keluarga yang mau bermurah hati, malam harinya orang-orang yang ngedhos kadang juga dipanggil untuk ikut makan malam. Panen bagi petani adalah berkah dan rezeki yang luar biasa membahagiakan.

Bapak-bapak ngedhos yang minta difoto. 
Katanya minta dicetak atau dimasukkan TV. Hihii..

Pagi ini menyenangkan sekali. Pagi-pagi jalan-jalan di sawah, dapat nasi dan dapat foto. Hehe.. Saya lalu pulang, walaupun kaki agak gatel-gatel tapi senang..


Pulang... dapat nasi, dapat foto-foto jugaaa.. :)

Perjalanan pulang, sayapun tanya-tanya lagi sama Mak Manis, tadi namanya bancaan apa? kali aja ada namanya sendiri dan saya belum tahu. Tapi katanya Mbancaki pari, pari sing dimulehna dibancaki, ben selamet. Tidak semua petani melaksanakan ini. “Sing nglakoni ya nglakoni, sing ora ya ora.” Begitu, katanya.

Petani memiliki tadisi atau kearifan lokal yang nilai-nilainya patut diteladani. Bahwa menjelang memulangkan padi/rezeki mereka masih senantiasa ingat pada Tuhan, masih mau bersyukur dengan cara berbagi makanan dengan tetangga. Saya pun mendengar celotehan dan tawa tetangga-tetangga tadi pagi. “Bancaan ki seneng, muleh-muleh nggawa sega.” Bancaan bikin senang, pulang-pulang bawa nasi, mereka mengucapkannya dengan tersenyum lebar. Indahnya berbagi dalam tradisi.

***

No comments:

Post a Comment

Menawi pamaos gadhah panyaruwe, uneg-uneg, utawi pitakonan ngenani seratan menika, kula sumanggakaken komen ing ngriki. Sumangga. Maturnuwun.