Ini zaman internet. Saya
merasakan sendiri efek positifnya. Banyak kemudahan-kemudahan yang saya alami
setelah mengenal dan asik dengan internet. Ketika bosan saya menjelajah
internet, ketika kesepian saya menjamah media sosial, ketika lupa bumbu masak
saya browsing di internet, ketika
penasaran mengenai suatu hal saya mencari-cari di internet, ketika ide macet
saya berseluncur menggali inspirasi di internet, dan bahkan ketika ingin
melihat berbagai macam pandangan mengenai kasus yang sedang marak dan
panas-panasnya saya menengok ke sini. Di sini (internet) orang bebas ber-cas
cis cus mengungkapkan opini yang keberadaannya bisa dilihat kapan saja karena
lebih bersifat otentik, tidak mudah lenyap seperti ketika orang langsung
bersuara secara verbal yang mungkin lebih bersifat refleks.
Beropini di mana pun tempatnya
tetap ada etikanya. Bagaimana caranya supaya tetap sopan tidak menyinggung
pihak tertentu dan menghargai opini lain itu yang terpenting. Sampai sejauh ini
saya juga masih belajar bagaimana cara beropini yang bener dan pener di dunia maya. Menulis opini dan berbicara dengan
sopan saya rasakan sama susahnya.
Berkaitan dengan dinamika
beropini saya mau membuka catatan saya di sini. Semoga ini bermanfaat. Salah satu catatan dari novel
Jobstein Gaarder di Dunia Sophie bab Kant
ada yang menarik untuk saya garis bawahi, taglinenya berbunyi:
…….langit berbintang di atasku dan hukum moral di dalam diriku….
Sebelumnya saya kutip penggalan
percakapan Alberto dan Sophie di bab Imanuel Kant, tapi maaf ini agak panjang.
…………………………………
“Mari kita lakukan sebuah percobaan kecil. Tolong ambilkan kacamata itu
dari meja sana? Terima kasih. Sekarang pakailah.”
Sophie memakainya. Semua yang ada di sekitarnya menjadi merah.
Warna-warna pucat menjadi merah jambu dan warna-warna gelap menjadi merah tua.
“Apa yang kamu lihat?”
“Yang kulihat persis sama seperti sebelumnya, kecuali bahwa semuanya
berwarna merah.”
“Itu karena kacamata tersebut membatasi cara kamu memandang realitas.
Segala sesuatu yang kamu lihat adalah bagian dari dunia di sekelilingmu, tapi
bagaimana kamu melihat ditentukan oleh kacamata yang kamu pakai. Jadi kamu
tidak dapat mengatakan bahwa dunia itu merah meskipun kamu melihatnya demikian.”
“Tidak, tentu saja.”
“Jika kamu sekarang berjalan-jalan di hutan, atau pulang ke rumah, kamu
akan melihat segala sesuatu yang biasanya kamu lihat. Tapi apapun yang kamu
lihat, semuanya berwarna merah.”
“Selama aku tidak melepas kacamata itu ya?”
“Dan, Sophie, itulah tepatnya yang dimaksudkan oleh Kant ketika dia
mengatakan bahwa ada kondisi-kondisi tertentu yang mengatur cara kerja pikiran
dan memengaruhi cara kita memandang dunia.”
…………………………………………………………
Adanya perbedaan pendapat disebabkan
karena suatu masalah dilihat dari sudut pandang yang berbeda atau dengan kata
lain dilihat menggunakan kaca mata berbeda. Pengetahuan seseorang terdapat
dalam pikiran. Suatu masalah selalu dilihat terbatas berdasarkan pengetahuan
yang kita punya. Mendengar alasan orang lain mengenai pendapatnya yang berbeda
sangat penting karena sudut pandang mereka mungkin berbeda. Mengerti dengan
cara ini juga bisa membantu tidak terbawa emosi ingin menang ketika berbeda
pandangan.
Ada salah satu falsafah hidup
orang Jawa yang berbunyi wani ngalah.
Menang ora kondang, kalah wirang. Padu
don (adu mulut) ibarat perang. Ketika berbeda pendapat dan dirasa tidak
bertemu dengan titik temu ada baiknya diam untuk sekedar mengalah. Mengalah
berbeda dengan kalah. Mengalah semata-mata untuk menyenangkan hati orang lain
supaya keadaan tetap baik-baik saja agar tidak ada hati orang lain yang malu
dan tersinggung.
Kunci yang selalu saya pegang adalah menjaga keharmonisan.
Selalu saya ingatkan diri saya sendiri untuk menjaga hubungan baik dengan orang
lain. Karena itu bicara dan menulis yang sopan saat mengutarakan pendapat
sangat penting. Setiap orang yang punya pandangan berbeda selalu punya kacamata
sendiri, mereka punya sudut pandang sendiri memandang sesuatu dari sisi yang
berbeda jadi wajar saja kalau ada perbedaan pendapat. Kalau begitu kenapa tidak
mencoba untuk mendengar dan menghargai? Ini bisa dicerminkan ketika memutuskan
menyanggah tulisan sesorang menunjukkan ketidaksepahaman atau hanya diam
setelah membacanya. Saya juga masih belajar menghargai dan menemukan cara diskusi
yang asik untuk menemukan pencerahan ketika berbeda pandangan dengan orang
lain. Supaya tidak ada gontok-gontokan.
Jadi memahami pemahaman orang lain tentang pendapat tertentu saya rasa adalah
kuncinya.
-------------------------
*Sumber Gambar: intisari-online.com

No comments:
Post a Comment
Menawi pamaos gadhah panyaruwe, uneg-uneg, utawi pitakonan ngenani seratan menika, kula sumanggakaken komen ing ngriki. Sumangga. Maturnuwun.