Tuesday, January 14, 2014

Romantisisme Hidup di Desa

1389636606111531803
Ilustrasi (Alfi)






















Pagi itu saya bersama teman-teman meluncur menelusuri jalan-jalan di desa perbatasan kecamatan. Sengaja saya pilih jalan-jalan yang melewati sawah memang, karena ingin menikmati udara pagi yang murni. Beruntung saya hidup di desa. Udara segar masih bisa saya rasakan di mana-mana.

Saat itu kehidupan pagi di ladang telah dimulai. Padi yang baru tumbuh tak lebih dari tinggi lutut orang dewasa itu tumbuh saling mendahului dengan rumput-rumput liar. Inilah saatnya para petani melakukan kegiatan matun. Istilah matun dalam bahasa Jawa dialeg Rembang berarti mencabut rumput yang tumbuh di sela-sela tanaman padi.

Perjalanan bersepeda kami menelusuri kehidupan pagi di sudut-sudut desa. Ada calon ibu muda yang hamil yang sedang jalan-jalan di jalan beraspal dekat sawah, ada nenek-nenek penjual serabi di pinggir jalan yang dikelilingi pembeli, sederetan
ibu-ibu yang juga bersepeda sambil ngobrol dengan temannya. Bedanya dengan kami, setiap pagi pekerjaan mereka memang naik sepeda menuju ladang padi. Mereka menjadiburuh matun di sawah. Sedangkan kami sengaja jalan-jalan pagi melihat aktivitas mereka. Rasanya sejuk karena di jalan yang saya pilih tak banyak kendaraan bermotor berlalu-lalang. Kami juga melewati hutan jati mini. Saya sebut mini karena tanah itu lain. Kalau sawah penduduk kebanyakan ditanami padi. Saya melihat sepetak tanah di pinggir kampung yang hanya ditanami pohon jati. Lain dari sawah yang lain. Mungkin pemilik ladang tidak sempat mengolah tanaman padi jadi di situ mereka menanam tanaman yang bisa bertahan beberapa tahun.

Di lain hari keponakan-keponakan laki-laki saya ribut membawa seember kecil keong sawah. Keong yang mereka bawa pulang minta dimasakkan. Bayangan saya langsung tergambar keasikan mereka berkecimung dengan air sawah menangkap keong di antara tanaman padi. Mereka bermain-main mencari keong sawah di sana. Mengingatkan saya pada beberapa tahun silam ketika masih SD. Di sawah sebelah bangunan sekolah bersama teman-teman mencari keong sawah. Sorenya ibu teman saya memasakkan oseng keong sawah dari keong yang kami tangkap. Makan bersama saat itu membuat kami senang karena di sela-sela makan ada candakan yang membuat bibir kami menyunggingkan senyum. Puas rasanya makan dari hasil tangkapan sendiri. Tapi sekarang entah kenapa, mungkin karena pernah melihat mentahnya saya malah nggak doyan setelah dimasak.

Mengeja Suara-Suara Tumbuhan

Seperti rantai yang selalu terhubung dan tak ada putus-putusnya. Setiap kali saya meresahkan sesuatu Tuhan selalu punya cara mengingatkan dan memberi pengertian supaya paham. Perhatian Tuhan tiada henti-hentinya, pun saat saya belum bisa memahami banyak hal tentang yang Ia ciptakan.

Saat itu saya kepikiran tentang pohon. Bagaimana harus belajar dari pohon. Mungkin ada kaitannya dengan yang beberapa hari saya baca dan lihat juga. Tentang kehidupan-kehidupan yang dianalogikan dengan pohon, tentang pohon-pohon yang malang yang dipaku gambar-gambar yang tak semestinya di tempatkan di sana, dan kebetulan prompt tantangan menulis fiksi grup yang saya ikuti juga tentang pohon. Intinya yang ada di pikiran saya waktu itu adalah pohon, hijau, sejuk dan kebetulan saya diajak jalan-jalan dekat tumbuhan hijau. Jadi kepikiran, apa lagi yang bisa saya pelajari dari akar sampai ujung daun yang diciptakanNya?

Selalu merasa takjub setiap kali melihat keindahan tumbuhan atau pohon berjajar, pantai, laut, gunung, dan sawah yang hijau luas. Setiap kali menempuh perjalanan Rembang-Semarang, sampai di beberapa titik, di Pati, Kudus, Demak  (sepanjang pantura), yang tidak lepas dari mata saya adalah hamparan sawahnya. Saya selalu dibuatnya memandang lekat-lekat. Selalu merasa sejuk dan tak bosan walaupun sering melewatinya. Betapa indah dan sejuk yang Tuhan ciptakan, menenangkan. Bahkan pernah sekali, sore hari ketika sampai di Demak, saya melihat pelangi di atas hamparan sawah yang hijau. Karena melaju bersama teman lelaki saya memaksanya buru-buru mengemudikan motornya supaya bisa segera sampai di jalan lingkar dan mengambil gambar pelangi dari sana. Pikir saya waktu itu di jalan lingkar Demak tidak terhalang bangunan sehingga pasti nanti fotonya bagus. Tapi sayang saya lupa bahwa kamera saat itu tidak mendukung untuk menangkap gambar pelangi.

Jalan-Jalan di Hutan Mangrove

Mungkin ini berlebihan. Tapi sejak merasakan asik menulis saya memaksa diri supaya peka mau berfikir, berimajinasi, merespon, dan melihat segala apa yang ada di sekeliling saya sekecil apapun itu. Dan kemarin saya terkagum-kagum lagi ketika melihat hutan mangrove. Bertahun-tahun hidup di Rembang. Baru kemarin punya kesempatan mengunjunginnya. Pagi-pagi kami jalan-jalan di hutan mangrove desa Pasar Banggi Rembang. Setelah berkali-kali hanya melewatinya akhirnya saya berkesampatan mengunjunginya lebih dekat.

13896329341847437320
Ilustrasi (Didik)
1389633365931565690
Ilustrasi (Rini)
1389633543934854335
Ilustrasi (Rini)
13896401841441462661
Ilustrasi (Didik)















































































Sabtu pagi itu dua mobil melaju dari kantor. Setelah sampai parkir kendaraan di sebelah rumah penduduk di perkampungan, kami berjalan menyusuri galengantambak ikan sampai jembatan kecil yang menuju bibir pantai. Mendekati pantai kami berjalan di antara pohon mangrove. Di sebelah kanan, kiri, atas, dan bawah kami adalah gelantungan batang, akar, dan daun mangrove. Senang bisa olah raga di antara tetumbuhan.
Lalu saya teringat fiksi sepenggal yang saya tulis.

Perihal Pohon Pohon yang Bisa Bicara

“Pohon itu bisa bicara, aku tidak mengada-ada!”
Sudah kubilang hati-hati jangan bicarakan pada sembarang orang tentang suara-suara yang kau dengar tapi tetap saja kau beritahu orang sekampung. Kalau tak menggunakan pikiran bersih mereka tak kan berhasil memahami. Lalu malam-malam mereka mencuri-curi waktu mengendap-endap membuktikan perkataanmu padahal saat kau ceritakan, terlihat jelas dari raut muka dan senyum sinis mereka bahwa mereka menyepelekan ucapanmu karena sejak awal memang tak pernah menganggapmu orang penting. Sekalipun jabatan kepala desa berhasil kau duduki.
“Dia bisa bicara, aku yakin. Aku bisa mendengarnya? Tidak sekedar kata-kata. Seperti  nglulu kita. Kita dilulu. Saatnya peka.”
“Apa yang kau dengar?” Lalu kau diam sesaat.
“Dia bilang, teruskan. Teruskan saja saling perang. Sudah senang merasa menang?”
***

Di negeri yang kaya ini saya masih terbata-bata mengeja apa yang kira-kira dia katakan perihal beribu masalah yang terjadi di tanah tempatnya berdiri ini. Di antara masalah yang kompleks ini, dia tetap tegak tenang berdiri memberi manfaat pada berjuta makhluk di bumi.

No comments:

Post a Comment

Menawi pamaos gadhah panyaruwe, uneg-uneg, utawi pitakonan ngenani seratan menika, kula sumanggakaken komen ing ngriki. Sumangga. Maturnuwun.