Friday, January 3, 2014

Bahasa Indonesia Versus Bahasa Jawa


Suatu hari, saya mendengar salah seorang teman kuliah saya jurusan bahasa Indonesia berbicara seperti ini, “Cah bahasa Indonesia kok ngomonge nganggo basa Jawa” (Anak Bahasa Indonesia kok ngomongnya pakai bahasa Jawa). Di lain kesempatan saya mendengar lagi tetangga di kampung saya berbicara seperti ini, “Halah wong Jawa kok ngomonge nganggo bahasa Indonesia, engkek.” (Halah, orang Jawa kok ngomongnya pakai bahasa Indonesia, Nggaya). Dalam hati saya tersenyum, ironis sekali.


Fungsi bahasa Indonesia, seperti kita tahu secara nasional adalah sebagai alat pemersatu bangsa, karena itu menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar adalah kewajiban setiap warga negara. Namun, di sisi lain bahasa daerah yang merupakan bagian dari budaya daerah harus tetap dijaga kelestariannya, mengingat suatu statement yang berbunyi bahwa budaya daerah adalah akar dari budaya nasional. Kalau begitu bukankah bahasa Jawa dan bahasa Indonesia sama pentingnya? Lantas bagaimana kalau masih ada yang berpersepsi “berbahasa Indonesia berarti nggaya”, “nggak ngomong bahasa Indonesia nggak gaul” atau bahkan “nggak pake bahasa Jawa berarti nggak melestarikan budaya daerah?’’

Baiklah, sebelum saya lanjutkan akan saya jelaskan kenapa rival bahasa Indonesia paling kuat dalam opini ini adalah bahasa Jawa? Karena suku di Indonesia yang paling banyak adalah suku Jawa, otomatis jumlah penutur bahasa Jawa lebih banyak jika dibandingkan dengan penutur bahasa daerah yang lainnya. Dan di samping itu, karena saya orang Jawa dan kebetulan bergelut mendalami bidang studi bahasa Jawa, maka bahasa daerah yang saya bicarakan di sini adalah bahasa Jawa.

Langsung saja saya lanjutkan mengenai kedua persepsi tersebut bagaimana seharusnya sikap kita sebagai penutur dwilingual atau bahkan trilingual? Pertama-tama marilah berfikir positif, tinggalkan persepsi bahwa memakai bahasa Indonesia berarti nggaya, memakai bahasa daerah berarti ndeso, dan juga tidak memakai bahasa daerah berarti tidak melestarikan budaya daerah. Sebagai warga Negara yang baik kita harus menggunakan bahasa Indonesia, dan sebagai warga negara yang baik pula kita harus tetap melestarikan bahasa daerah sebagai budaya daerah. Lantas bagaimana caranya? Apakah mungkin kita menggunakan kedua bahasa secara bersamaan? 

Jawabannya mungkin, namun bukan bersamaan tapi beriringan. Ada waktunya kapan dan dengan siapa kita memilih menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Jawa. Pilihlah waktu yang tepat dan kepada mitra tutur yang tepat ketika memilih menggunakan bahasa tersebut. Dan tentu saja dengan niat baik dan positif agar bahasa Indonesia benar-benar bisa menjadi alat pemersatu bangsa dan bahasa daerah bisa tetap kita budayakan. PRnya adalah untuk para orang tua, bagaimana seharusnya bersikap kepada anak. Yang mana yang harus diajarkan terlebih dahulu? Bahasa Indonesia, bahasa Jawa, atau bahkan mungkin bahasa Inggris? Mengingat di zaman yang serba modern seperti ini peran bahasa Inggris sangat vital.



Ketika difungsikan secara tepat, bahasa Indonesia punya tempatnya sendiri, begitu pula bahasa daerah dan bahasa Asing. Semoga bahasa daerah sebagai bahasa Ibu tetap bisa lestari dan tidak hanyut ditelan zaman serta persepsi negatif, begitu pula bahasa Indonesia semoga tetap bisa menjadi pemersatu bangsa. Selamat hari bahasa.

----------------------------------------
*Sumber Gambar:
gimonca.com

No comments:

Post a Comment

Menawi pamaos gadhah panyaruwe, uneg-uneg, utawi pitakonan ngenani seratan menika, kula sumanggakaken komen ing ngriki. Sumangga. Maturnuwun.