Friday, January 3, 2014

Guru Alam


Sebulan terakhir, di rumah kakak saya ada beberapa Pak tukang yang memperbaiki rumah. Saya teringat suatu pelajaran. Mereka memasang batu bata satu persatu untuk mendirikan tembok. Batu bata yang tidak besar mereka susun satu persatu sampai tinggi, direkatkan dengan adonan pasir semen dengan sabar. Mereka membangun rumah tempat tinggal. Bapak tukang dan kuli bangunan berjasa membangun rumah yang kita tinggali. Tapi banyak yang memandang sebelah mata profesi mereka. Karena pekerjaan yang mereka lakukan adalah pekerjaan orang yang (maaf) berpendidikan rendah.
Sama halnya  petani, entah itu petani gurem atau petani yang berjasa memasok kebutuhan vital manusia yaitu bahan makanan. Tapi mereka tak banyak dipandang oleh kebanyakan orang dan para penguasa. Kebijakan mobil murah lebih ramai dibicarakan dan diperjuangkan dari pada kebijakan menyelamatkan petani-petani kita.

Kemarin ada yang menarik perhatian saya ketika sedang ramai-ramainya opini tersebar perihal dokter, lalu kasus seniman yang memperkosa gadis, dan beberapa kasus lain yang memicu opini publik. Tidak salah memang karena hidup di negara demokrasi semua orang bebas berpendapat, bersuara, beropini entah itu seorang ahli atau bukan ahli. Sebagai wujud simpati atau hanya mengeluarkan unek-unek dari kepala.

Melihat begitu ramai opini membuat saya agak risi ketika membuka media sosial. Judul yang nyinyir dan memihak satu pihak selalu menyulut kontroversi di mana-mana. Tapi memang beginilah dunia. Semua orang bebas. Bebas berpendapat mengutarakan dan menunjukkan rasa simpatinya. Pilihannya mau ikut dalam perdebatan, tetap diam mempelajari kasus-kasusnya sebagai pelajaran, ikut mendoakan, atau diam tak mau tahu. Semua orang bebas. Tapi yang saya sayangkan kenapa di beberapa pihak kesalahan seseorang selalu disangkut-pautkan dengan profesi yang disandang? Setiap manusia kan memang manusia? Dia punya kebutuhan dasar adalah fitrahnya. Kalau tersandung kesalahan itu wajar. Tapi kalau sampai disangkutpautkan dengan kecenderungan profesi hingga berakibat mengecap profesi tertentu sebagai profesi yang buruk, kadang kurang tepat. Seorang yang digadang-gadang bisa saja melakukan kesalahan. itu manusiawi, baik kesalahan ringan ataupun fatal. Mereka yang menggadang-gadangkan ilmu pengetahuan, lalu mengkritisi keadaan terkini yang sebenarnya hanya sebuah cibiran juga banyak. Kemudian saya mulai bercermin tanpa sadar saya bisa menjadi bagian dari mereka yang mencibir. Betapa mudahnya melakukan hal buruk.

Belajar Dari Alam

Di Koran minggu SM tertanggal 1 Desember, di kolom Pamomong yang ditulis Bapak Sendang Mulyana ada yang menarik perhatian saya yaitu tentang Guru Alam. Kebenaran kasusnya mungkin berbeda, tapi ini hanya analogi sebagai pelajaran saya saja. Saya gambarkan begini: Dokter yang demo mogok, mungkin ada yang berfikir kalau tak ada dokter yang mengobati kita, bagaimana jadinya? Dan guru ikut membalas mogok menuntut gaji dan menyanggah dokter. Apa tak ingat dulu yang membuatnya pintar siapa? Kalau guru mogok mengajar apa jadinya? Lalu Petani hanya tertawa. Mereka pada ribut, apa tak pernah ingat makan dari jerih payah siapa? Alam mungkin hanya diam karena petani juga tak akan berdaya kalau alam tak merestuinya. Semua di bawah kuasa Tuhan. Melalui alam kita hidup tercukupi, lalu apa kontribusi kita? Manusia sibuk beropini dan berkontroversi di bumi. Bumi saja tak pernah mengunggulkan apa yang pernah dia beri.

Mari belajar dari alam yang terus menerus memberi dan tak pernah menuntut banyak hal pada manusia. Manusia hanya wajib menjaga bumi agar lestari dan terjaga apa susahnya? Semua komponen di bumi memang selalu bergantung sama lain. Saling melengkapi. Jadi mari berdamai menjaga bumi dan menciptakan suasana nyaman.

Dari situ saya belajar dari kesalahan yang sering saya buat dan saya lihat di kasus-kasus yang telah terjadi. 

----------------------
*Sumber Gambar: http://www.semarweb.com/wayang.html

No comments:

Post a Comment

Menawi pamaos gadhah panyaruwe, uneg-uneg, utawi pitakonan ngenani seratan menika, kula sumanggakaken komen ing ngriki. Sumangga. Maturnuwun.