Sebulan terakhir, di rumah kakak saya ada beberapa Pak tukang
yang memperbaiki rumah. Saya teringat suatu pelajaran. Mereka memasang batu
bata satu persatu untuk mendirikan tembok. Batu bata yang tidak besar mereka
susun satu persatu sampai tinggi, direkatkan dengan adonan pasir semen dengan
sabar. Mereka membangun rumah tempat tinggal. Bapak tukang dan kuli bangunan
berjasa membangun rumah yang kita tinggali. Tapi banyak yang memandang sebelah
mata profesi mereka. Karena pekerjaan yang mereka lakukan adalah pekerjaan
orang yang (maaf) berpendidikan rendah.
Sama halnya petani,
entah itu petani gurem atau petani yang berjasa memasok kebutuhan vital manusia
yaitu bahan makanan. Tapi mereka tak banyak dipandang oleh kebanyakan orang dan
para penguasa. Kebijakan mobil murah lebih ramai dibicarakan dan diperjuangkan
dari pada kebijakan menyelamatkan petani-petani kita.
Kemarin ada yang menarik perhatian saya ketika sedang
ramai-ramainya opini tersebar perihal dokter, lalu kasus seniman yang memperkosa
gadis, dan beberapa kasus lain yang memicu opini publik. Tidak salah memang
karena hidup di negara demokrasi semua orang bebas berpendapat, bersuara, beropini
entah itu seorang ahli atau bukan ahli. Sebagai wujud simpati atau hanya
mengeluarkan unek-unek dari kepala.
Melihat begitu ramai opini membuat saya agak risi ketika membuka
media sosial. Judul yang nyinyir dan memihak satu pihak selalu menyulut
kontroversi di mana-mana. Tapi memang beginilah dunia. Semua orang bebas. Bebas
berpendapat mengutarakan dan menunjukkan rasa simpatinya. Pilihannya mau ikut
dalam perdebatan, tetap diam mempelajari kasus-kasusnya sebagai pelajaran, ikut
mendoakan, atau diam tak mau tahu. Semua orang bebas. Tapi yang saya sayangkan
kenapa di beberapa pihak kesalahan seseorang selalu disangkut-pautkan dengan
profesi yang disandang? Setiap manusia kan memang manusia? Dia punya kebutuhan
dasar adalah fitrahnya. Kalau tersandung kesalahan itu wajar. Tapi kalau sampai
disangkutpautkan dengan kecenderungan profesi hingga berakibat mengecap profesi
tertentu sebagai profesi yang buruk, kadang kurang tepat. Seorang yang
digadang-gadang bisa saja melakukan kesalahan. itu manusiawi, baik kesalahan
ringan ataupun fatal. Mereka yang menggadang-gadangkan ilmu pengetahuan, lalu
mengkritisi keadaan terkini yang sebenarnya hanya sebuah cibiran juga banyak.
Kemudian saya mulai bercermin tanpa sadar saya bisa menjadi bagian dari mereka
yang mencibir. Betapa mudahnya melakukan hal buruk.
Belajar Dari Alam
Di Koran minggu SM tertanggal 1 Desember, di kolom Pamomong yang ditulis Bapak Sendang
Mulyana ada yang menarik perhatian saya yaitu tentang Guru Alam. Kebenaran
kasusnya mungkin berbeda, tapi ini hanya analogi sebagai pelajaran saya saja.
Saya gambarkan begini: Dokter yang demo mogok, mungkin ada yang berfikir kalau
tak ada dokter yang mengobati kita, bagaimana jadinya? Dan guru ikut membalas
mogok menuntut gaji dan menyanggah dokter. Apa tak ingat dulu yang membuatnya
pintar siapa? Kalau guru mogok mengajar apa jadinya? Lalu Petani hanya tertawa.
Mereka pada ribut, apa tak pernah ingat makan dari jerih payah siapa? Alam
mungkin hanya diam karena petani juga tak akan berdaya kalau alam tak
merestuinya. Semua di bawah kuasa Tuhan. Melalui alam kita hidup tercukupi,
lalu apa kontribusi kita? Manusia sibuk beropini dan berkontroversi di bumi.
Bumi saja tak pernah mengunggulkan apa yang pernah dia beri.
Mari belajar dari alam yang terus menerus memberi dan tak
pernah menuntut banyak hal pada manusia. Manusia hanya wajib menjaga bumi agar
lestari dan terjaga apa susahnya? Semua komponen di bumi memang selalu
bergantung sama lain. Saling melengkapi. Jadi mari berdamai menjaga bumi dan
menciptakan suasana nyaman.
Dari situ saya belajar dari kesalahan yang sering saya buat dan saya lihat di kasus-kasus yang telah terjadi.
----------------------
*Sumber Gambar: http://www.semarweb.com/wayang.html

No comments:
Post a Comment
Menawi pamaos gadhah panyaruwe, uneg-uneg, utawi pitakonan ngenani seratan menika, kula sumanggakaken komen ing ngriki. Sumangga. Maturnuwun.