Thursday, February 13, 2014

Potret Bahasa Jawa Dialek Rembang

Ada yang unik dengan Bahasa Jawa dialek Rembang, jika dicermati lebih teliti ada perbedaan dengan bahasa Jawa pada umumnya (Solo - Yogja). Jika mencakup wilayah yang lebih luas, bahasa Jawa dialek Rembang di beberapa aspek memiliki persamaan dengan bahasa Jawa di Pati, Jepara dan Blora. Perbedaan bahasa Jawa dialek Rembang dengan bahasa Jawa pada umumnya terletak pada tataran morfologi. Potret penanda morfologi bahasa Jawa dialek Rembang dapat di lihat pada uraian berikut ini.

PENANDA MORFOLOGI DALAM PROSES AFIKSASI

Afiksasi atau pengimbuhan adalah proses morfologi yang berupa pengimbuhan atau penambahan imbuhan pada bentuk dasar. Penanda afiksasi yang membentuk bahasa Jawa dialek Rembang di antaranya yaitu prefiks muk-, sufiks -(n)em, sufiks –na, afiks gabung N-/-na, afiks gabung muk-/-i, afiks gabung muk-/-na, afiks gabung di-/-na, afiks gabung takN-/-na, afiks gabung tak-/-na, prefiks N-, prefiks di-, prefiks tak-, sufiks –an, sufiks –i, sufiks –ku, sufiks –e,  sufiks –ane, afiks gabung di-/-i, dan afiks gabung N-/-i.

Pakune mau mukgandhen?
[pakune mau mʊɁganḍɛn?]
‘Pakunya tadi kamu pukul dengan palu?’

mukgandhen
muk- + gandhen

Banginem padha ilang, je.
[baŋinəm pͻḍͻ ilaŋ, je.]
‘Umpan ikan kamu hilang.’

banginem
bangi + -em

PENANDA MORFOLOGI DALAM PROSES REDUPLIKASI


Reduplikasi atau pengulangan adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar baik secara keseluruhan, sebagian (parsial), maupun dengan perubahan bunyi (Chaer 1994:182). Reduplikasi atau dwilingga yang ditemukan dalam bahasa Jawa dialek Rembang adalah sebagai berikut.

Reduplikasi Penuh


Dalam bahasa Jawa dialek Rembang, reduplikasi penuh terdiri dari reduplikasi penuh tanpa variasi bunyi dan reduplikasi penuh dengan variasi bunyi.

Reduplikasi Penuh tanpa Variasi Bunyi

Reduplikasi penuh atau dwilingga wutuh tanpa variasi bunyi pada bahasa Jawa dialek Rembang dapat dilihat pada contoh berikut ini.

imboh-imboh [imbͻh- imbͻh] ‘pura-pura’
alang-alang [alaŋ-alaŋ] ‘mencari ikan dengan cara meminta dari nelayan’
gidrang-gidrang [gidraŋ-gidraŋ] ‘jingkrak-jingkrak’

Reduplikasi Penuh dengan Variasi Bunyi

Reduplikasi penuh dengan variasi bunyi atau dwilingga salin swara terbagi menjadi reduplikasi yang bentuk dasar perulangannya terlihat di bagian kedua, reduplikasi yang bentuk dasar perulangannya di depan, reduplikasi yang bentuk dasar perulangannya pada suku awal bagian pertama, dan reduplikasi yang bentuk dasar perulangannya tidak terlihat.

Reduplikasi penuh dengan variasi bunyi pada bahasa Jawa dialek Rembang yang ditemukan adalah reduplikasi penuh dengan variasi bunyi yang tidak terlihat bentuk dasarnya. Reduplikasi penuh dengan variasi bunyi yang tidak terlihat bentuk dasarnya pada bahasa Jawa dialek Rembang dapat dilihat pada contoh berikut ini.

uthak-uthuk [uṭaɁ-uṭuɁ] ‘sok-sokan’
keta-kete [keta-kete] ‘sok-sokan’
undal-undul [undal-undul] ‘muncul berkali-kali’

Reduplikasi Parsial

Reduplikasi parsial atau kata ulang sebagian pada bahasa Jawa terbagi menjadi empat macam, yaitu dwipurwa atau reduplikasi pada suku pertama, dwimadya atau reduplikasi pada suku tengah, dwiwasana atau reduplikasi pada suku terakhir, dan reduplikasi bagian awal dan akhir. Reduplikasi parsial yang ditemukan dalam bahasa dialek Rembang yaitu reduplikasi pada suku pertama dan reduplikasi pada suku tengah. Reduplikasi pada suku pertama misalnya kata thong-thongklek [ṭoŋ-ṭoŋklɛɁ] ‘tradisi festival musik tradisional di bulan Ramadhan’.

Reduplikasi pada suku yang di tengah atau dwimadya pada bahasa Jawa terjadi pada reduplikasi berimbuhan. Namun, tidak semua reduplikasi berimbuhan termasuk reduplikasi pada suku awal. Contoh reduplikasi pada suku tengah atau dwimadya pada bahasa Jawa dialek Rembang sebagai berikut.

mukocar-acirna [mʊʔocar-acirnͻ] ‘diporak - porandakan’
mukobat-abitna [diobat-abitnͻ] ‘diombang-ambingkan’

Reduplikasi Berimbuhan

Dalam bahasa Jawa dialek Rembang, ada beberapa kata yang mengalami reduplikasi dan afiksasi secara bersamaan. Kata yang mengalami reduplikasi dan afiksasi secara bersamaan, mendapatkan penambahan afiks gabung muk-/-na, afiks gabung di-/-na, dan sufiks –e.

Cung, cung, mejaku iku ndik, muknggo pengkrongan, lodong iku mukocar-acirna.
[cʊŋ, cʊŋ, mejͻku iku ndiɁ, mʊɁŋgo peŋkrͻŋan, lͻdͻŋ iku mʊɁocar-acirnͻ.]
‘Nak, Nak, mejaku itu pendek! Malah kamu tunggangi! Itu toples kok kamu berantakkan!’

mukocar-acirna
muk- + ocar-acir + -na

Aku ning gara diobat-abitna ombak.
[aku nIŋ gͻrͻ diobat-abitnͻ ombaɁ.]
‘Saya di laut di ombang-ambingkan’

diobat-abitna
di- + obat-abit + -na

Thong-thongkleke elek, marai disele mati apa?
[ṭoŋ- ṭoŋklɛɁe ɛlɛɁ, marai disəle mati ͻpͻ?]
‘Tong-tongkleknya jelek, soalnya diselnya mati.’

thong-thongkleke
thong-thongklek +-e

PENANDA MORFOLOGI DALAM PROSES PEMENDEKAN

Pemendekan adalah proses penanggalan beberapa bagian leksem atau kombinasi leksem menjadi kata baru. Hasil proses pemendekan dibedakan atas penggalan, singkatan, dan akronim (Chaer 1994:191).

Penggalan

Penggalan atau pemenggalan adalah kependekan berupa pengekalan satu atau dua suku pertama atau suku terakhir dari bentuk yang dipendekkan itu. Penggalan dalam bahasa Jawa dialek Rembang dapat dilihat pada contoh kata berikut ini.

cung [cʊŋ] = kacung [kacʊŋ] ‘nak (laki-laki)’
dhiluk [ḍiluʔ] = sediluk [səḍiluʔ] ‘sebentar’
pedah [pedah]          = sepedah [səpedah] ‘sepeda’  
mbek [mbɛʔ]= ambek [ambɛʔ] ‘bersama/dengan’

Singkatan

Singkatan adalah hasil proses pemendekan yang berupa pengekalan huruf awal dari sebuah leksem, atau huruf-huruf awal dari gabungan leksem (Chaer 1994:191). Contoh singkatan dalam bahasa Jawa dialek Rembang dapat dilihat pada kata PMI, yang merupakan singkatan dari pasukan mepe iwak [pasukan mepe iwaʔ] ‘kelompok yang menjemur ikan’.

Akronim

Akronim adalah hasil pemendekan yang berupa kata atau dapat dilafalkan sebagai kata. Wujud pemendekannya dapat berupa pengekalan huruf-huruf pertama, berupa pengekalan suku-suku kata dari gabungan leksem, atau bisa juga secara tak beraturan (Chaer 1994:192). Akronim dalam bahasa Jawa dialek Rembang dapat dilihat pada contoh berikut ini.

cekjung [cɛʔjuŋ] = kocek rajungan [kocɛʔ rajuŋan] ‘mengupas kepiting’
wakring [wakriŋ] = iwak garing [iwaʔ gariŋ] ‘ikan kering’
kehwak [kɛhwaʔ] = akeh iwak [akɛh iwaʔ] ‘banyak ikan’
nggirnakung [ŋgirnͻkʊŋ] = minggirna jukung [miŋgirnͻ jukʊŋ] ‘menepikan kapal’

Dalam bahasa Jawa dialek Rembang, terdapat kata yang mengalami pemendekan dan afiksasi secara bersamaan. Kata hasil proses pemendekan yang mengalami afiksasi, ditandai dengan penambahan sufiks –em, sufiks –ku, dan sufiks –e. Kata hasil proses pemendekan yang mendapatkan penambahan sufiks   –em, sufiks –ku, dan sufiks –e adalah kata yang berkategori nomina.

Pedahem maeng mukdekek endi?
[pedahəm maəŋ mʊɁdɛkɛɁ əndi?]
‘Sepedamu tadi kamu taruh di mana?’

pedahem
pedah + -em

Pedahku maeng dinggo sapa?
[pedahku maəŋ diŋgo sͻpͻ?]
‘Sepedaku tadi dipakai siapa?’

Pedahku
pedah + -ku

Iki pedahe sapa cung?
[iki pedahe sͻpͻ cʊŋ?]
‘ini sepedanya siapa Nak?

Pedahe
pedah + -e

PENANDA MORFOLOGI DALAM PROSES MODIFIKASI INTERNAL

Modifikasi internal atau perubahan fonem merupakan proses morfologi dengan mengubah atau menambah salah satu fonem. Pembentukan kata melalui modifikasi internal pada bahasa Jawa dialek Rembang biasanya terjadi pada adjektiva. Modifikasi internal pada adjektiva bahasa Jawa dialek Rembang menyatakan makna sangat. Bentuk modifikasi internal pada bahasa Jawa dialek Rembang berupa modifikasi vokal a menjadi u, modifikasi vokal a menjadi ua, modifikasi vokal a menjadi ia, modifikasi vokal o menjadi uo, modifikasi vocal i menjadi ui, dan modifikasi internal berimbuhan.

Modifikasi Vokal a menjadi u

Modifikasi vokal a menjadi u pada kata bahasa Jawa dialek Rembang dapat dilihat pada contoh berikut ini.
abang [abaŋ] ‘merah’         = abung [abuŋ] ‘merah sekali’ ­­
lara [lͻrͻ] ‘sakit’                laru [lͻru] ‘sangat sakit’

Modifikasi Vokal a menjadi ua

Modifikasi vokal a menjadi ua pada kata bahasa Jawa dialek Rembang dapat dilihat pada contoh berikut ini.
ngawor [ŋawor] ‘ngawur’   = nguawor [ŋuawor] ‘ngawur sekali’
adoh [adͻh] ‘jauh’              = uadoh [uadͻh] ‘jauh’              
abang [abaŋ] ‘merah’         = uabung [uabuŋ] ‘merah sekali’
panas [panas] ‘panas’         = puanas [puanas] ‘sangat panas’

Modifikasi Vokal a menjadi ia

Modifikasi vokal a menjadi ia pada kata bahasa Jawa dialek Rembang dapat dilihat pada kata bianter [biantər] yang berasal dari adjektiva banter [bantər] ‘cepat’.

Modifikasi Vokal o menjadi uo

Modifikasi vokal o menjadi uo pada kata bahasa Jawa dialek Rembang dapat dilihat pada kata guoblok [guͻblͻk] ‘sangat bodoh’ yang berasal dari kata goblok [gͻblͻk] ‘bodoh’.

Modifikasi Vokal i menjadi ui

Modifikasi vokal i menjadi ui pada kata bahasa Jawa dialek Rembang dapat dilihat pada contoh berikut ini.
pinter [pintər] ‘pintar’           puinter [puintər]’pintar sekali’
cilik [ciliʔ] ‘kecil’                 cuilik [cuiliʔ] ‘sangat kecil’

Modifikasi Internal Berimbuhan

Dalam bahasa Jawa dialek Rembang terdapat adjektiva yang mengalami modifikasi internal dan afiksasi sekaligus. Kata yang mengalami modifikasi internal dan afiksasi secara bersamaan, ditandai dengan penambahan sufiks –e. Setelah mendapatkan penambahan sufiks –e, kata yang mengalami modifikasi internal berubah menjadi adverbia dan nomina. Sebagai contoh dapat dilihat pada kata berikut ini.

gobloke [gͻblͻke] ‘bodohnya’         = guobloke [guͻblͻke] ‘sangat bodoh’
adohe [adͻhe] ‘jauhnya’                 = uadohe [uadͻhe] ‘jauhnya’
bantere [bantəre] ‘cepatnya’           = buantere [buantəre] ‘sangat cepat’
abange [abaŋe] ‘merahnya’            = uabunge [uabuŋe] ‘merah sekali’
panase [panase] ‘panasnya’            = puanase [puanase] ‘sangat panas’

Pemakaian kata yang mengalami modifikasi internal dan afiksasi dalam bahasa Jawa dialek Rembang dapat terlihat pada contoh kalimat (15), (16), dan (17) berikut ini.

Nangise buantere ra karuan.
[naŋise buantəre ra karuan.]
‘Nangisnya sangat keras sekali.’
buantere
buanter + -e


Kata buantere ‘kerasnya’ dan puanase ‘panasnya’ pada kalimat di atas merupakan adverbia turunan dari adjektiva. Adverbia buantere ‘kerasnya’ dan puanase ‘panasnya’ berasal dari bentuk dasar adjektiva banter ‘keras’ dan panas ‘panas’. Adverbia yang berasal dari bentuk dasar adjektiva banter ‘keras’ dan panas ‘panas’ pada kalimat tersebut, mengalami proses modifikasi internal dan proses afiksasi. Setelah mengalami proses modifikasi internal dan penambahan sufiks –e, adjektiva banter ‘keras’ dan panas ‘panas’ berubah menjadi adverbia.


Demikian potret bahasa Jawa dialek Rembang dari segi morfologi.

No comments:

Post a Comment

Menawi pamaos gadhah panyaruwe, uneg-uneg, utawi pitakonan ngenani seratan menika, kula sumanggakaken komen ing ngriki. Sumangga. Maturnuwun.