Ada yang unik dengan Bahasa Jawa
dialek Rembang, jika dicermati lebih teliti ada perbedaan dengan bahasa Jawa
pada umumnya (Solo - Yogja). Jika mencakup wilayah yang lebih luas, bahasa Jawa
dialek Rembang di beberapa aspek memiliki persamaan dengan bahasa Jawa di Pati,
Jepara dan Blora. Perbedaan bahasa Jawa dialek Rembang dengan bahasa Jawa pada
umumnya terletak pada tataran morfologi. Potret penanda morfologi bahasa Jawa
dialek Rembang dapat di lihat pada uraian berikut ini.
PENANDA MORFOLOGI DALAM PROSES AFIKSASI
Afiksasi atau pengimbuhan adalah
proses morfologi yang berupa pengimbuhan atau penambahan imbuhan pada bentuk
dasar. Penanda afiksasi yang membentuk bahasa Jawa dialek Rembang di antaranya
yaitu prefiks muk-, sufiks -(n)em, sufiks –na, afiks gabung N-/-na,
afiks gabung muk-/-i, afiks gabung muk-/-na, afiks gabung di-/-na, afiks gabung takN-/-na, afiks gabung tak-/-na, prefiks N-, prefiks di-, prefiks tak-, sufiks –an, sufiks –i, sufiks –ku, sufiks –e, sufiks –ane, afiks gabung di-/-i, dan afiks gabung N-/-i.
Pakune
mau mukgandhen?
[pakune mau mʊɁganḍɛn?]
‘Pakunya tadi kamu pukul dengan palu?’
mukgandhen
|
muk- + gandhen
|
Banginem padha ilang, je.
[baŋinəm pͻḍͻ ilaŋ, je.]
‘Umpan ikan kamu hilang.’
banginem
|
bangi + -em
|
PENANDA MORFOLOGI DALAM PROSES REDUPLIKASI
Reduplikasi atau pengulangan
adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar baik secara keseluruhan,
sebagian (parsial), maupun dengan perubahan bunyi (Chaer 1994:182). Reduplikasi
atau dwilingga yang ditemukan dalam bahasa Jawa dialek Rembang adalah sebagai
berikut.
Reduplikasi Penuh
Dalam bahasa Jawa dialek Rembang,
reduplikasi penuh terdiri dari reduplikasi penuh tanpa variasi bunyi dan
reduplikasi penuh dengan variasi bunyi.
Reduplikasi Penuh tanpa Variasi Bunyi
Reduplikasi penuh atau dwilingga
wutuh tanpa variasi bunyi pada bahasa Jawa dialek Rembang dapat dilihat pada
contoh berikut ini.
imboh-imboh
[imbͻh- imbͻh] ‘pura-pura’
alang-alang
[alaŋ-alaŋ] ‘mencari ikan dengan cara meminta dari nelayan’
gidrang-gidrang
[gidraŋ-gidraŋ] ‘jingkrak-jingkrak’
Reduplikasi Penuh dengan
Variasi Bunyi
Reduplikasi penuh dengan variasi
bunyi atau dwilingga salin swara terbagi
menjadi reduplikasi yang bentuk dasar perulangannya terlihat di bagian kedua,
reduplikasi yang bentuk dasar perulangannya di depan, reduplikasi yang bentuk
dasar perulangannya pada suku awal bagian pertama, dan reduplikasi yang bentuk
dasar perulangannya tidak terlihat.
Reduplikasi penuh dengan variasi
bunyi pada bahasa Jawa dialek Rembang yang ditemukan adalah reduplikasi penuh
dengan variasi bunyi yang tidak terlihat bentuk dasarnya. Reduplikasi penuh
dengan variasi bunyi yang tidak terlihat bentuk dasarnya pada bahasa Jawa
dialek Rembang dapat dilihat pada contoh berikut ini.
uthak-uthuk [uṭaɁ-uṭuɁ]
‘sok-sokan’
keta-kete
[keta-kete] ‘sok-sokan’
undal-undul [undal-undul]
‘muncul berkali-kali’
Reduplikasi Parsial
Reduplikasi parsial atau kata
ulang sebagian pada bahasa Jawa terbagi menjadi empat macam, yaitu dwipurwa
atau reduplikasi pada suku pertama, dwimadya
atau reduplikasi pada suku tengah, dwiwasana
atau reduplikasi pada suku terakhir, dan reduplikasi bagian awal dan akhir.
Reduplikasi parsial yang ditemukan dalam bahasa dialek Rembang yaitu
reduplikasi pada suku pertama dan reduplikasi pada suku tengah. Reduplikasi
pada suku pertama misalnya kata thong-thongklek [ṭoŋ-ṭoŋklɛɁ] ‘tradisi festival
musik tradisional di bulan Ramadhan’.
Reduplikasi pada suku yang di
tengah atau dwimadya pada bahasa Jawa terjadi pada reduplikasi berimbuhan.
Namun, tidak semua reduplikasi berimbuhan termasuk reduplikasi pada suku awal.
Contoh reduplikasi pada suku tengah atau dwimadya pada bahasa Jawa dialek
Rembang sebagai berikut.
mukocar-acirna [mʊʔocar-acirnͻ]
‘diporak - porandakan’
mukobat-abitna
[diobat-abitnͻ] ‘diombang-ambingkan’
Reduplikasi Berimbuhan
Dalam bahasa Jawa dialek Rembang,
ada beberapa kata yang mengalami reduplikasi dan afiksasi secara bersamaan. Kata
yang mengalami reduplikasi dan afiksasi secara bersamaan, mendapatkan
penambahan afiks gabung muk-/-na,
afiks gabung di-/-na, dan sufiks –e.
Cung, cung, mejaku
iku ndik, muknggo pengkrongan, lodong iku mukocar-acirna.
[cʊŋ, cʊŋ, mejͻku iku ndiɁ, mʊɁŋgo peŋkrͻŋan, lͻdͻŋ iku mʊɁocar-acirnͻ.]
‘Nak, Nak, mejaku itu pendek! Malah kamu tunggangi! Itu
toples kok kamu berantakkan!’
mukocar-acirna
|
muk- + ocar-acir + -na
|
Aku ning gara
diobat-abitna ombak.
[aku nIŋ gͻrͻ diobat-abitnͻ ombaɁ.]
‘Saya di laut di ombang-ambingkan’
diobat-abitna
|
di- + obat-abit + -na
|
Thong-thongkleke
elek, marai disele mati apa?
[ṭoŋ- ṭoŋklɛɁe ɛlɛɁ, marai disəle mati ͻpͻ?]
‘Tong-tongkleknya jelek, soalnya diselnya mati.’
thong-thongkleke
|
thong-thongklek +-e
|
PENANDA MORFOLOGI DALAM PROSES PEMENDEKAN
Pemendekan adalah proses
penanggalan beberapa bagian leksem atau kombinasi leksem menjadi kata baru.
Hasil proses pemendekan dibedakan atas penggalan, singkatan, dan akronim (Chaer
1994:191).
Penggalan
Penggalan atau pemenggalan adalah
kependekan berupa pengekalan satu atau dua suku pertama atau suku terakhir dari
bentuk yang dipendekkan itu. Penggalan dalam bahasa Jawa dialek Rembang dapat
dilihat pada contoh kata berikut ini.
cung [cʊŋ] = kacung
[kacʊŋ] ‘nak (laki-laki)’
dhiluk [ḍiluʔ] =
sediluk [səḍiluʔ] ‘sebentar’
pedah [pedah] = sepedah [səpedah] ‘sepeda’
mbek [mbɛʔ]= ambek
[ambɛʔ] ‘bersama/dengan’
Singkatan
Singkatan adalah hasil proses
pemendekan yang berupa pengekalan huruf awal dari sebuah leksem, atau
huruf-huruf awal dari gabungan leksem (Chaer 1994:191). Contoh singkatan dalam
bahasa Jawa dialek Rembang dapat dilihat pada kata PMI, yang merupakan singkatan
dari pasukan mepe iwak [pasukan mepe
iwaʔ] ‘kelompok yang menjemur ikan’.
Akronim
Akronim adalah hasil pemendekan
yang berupa kata atau dapat dilafalkan sebagai kata. Wujud pemendekannya dapat
berupa pengekalan huruf-huruf pertama, berupa pengekalan suku-suku kata dari
gabungan leksem, atau bisa juga secara tak beraturan (Chaer 1994:192). Akronim
dalam bahasa Jawa dialek Rembang dapat dilihat pada contoh berikut ini.
cekjung [cɛʔjuŋ]
= kocek rajungan [kocɛʔ rajuŋan]
‘mengupas kepiting’
wakring [wakriŋ] =
iwak garing [iwaʔ gariŋ] ‘ikan kering’
kehwak [kɛhwaʔ] = akeh
iwak [akɛh iwaʔ] ‘banyak ikan’
nggirnakung [ŋgirnͻkʊŋ]
= minggirna jukung [miŋgirnͻ jukʊŋ]
‘menepikan kapal’
Dalam bahasa Jawa dialek Rembang,
terdapat kata yang mengalami pemendekan dan afiksasi secara bersamaan. Kata
hasil proses pemendekan yang mengalami afiksasi, ditandai dengan penambahan
sufiks –em, sufiks –ku, dan sufiks –e. Kata hasil proses pemendekan yang
mendapatkan penambahan sufiks –em, sufiks
–ku, dan sufiks –e adalah kata yang berkategori nomina.
Pedahem maeng
mukdekek endi?
[pedahəm maəŋ mʊɁdɛkɛɁ əndi?]
‘Sepedamu tadi kamu taruh di mana?’
pedahem
|
pedah + -em
|
Pedahku maeng dinggo
sapa?
[pedahku maəŋ diŋgo sͻpͻ?]
‘Sepedaku tadi dipakai siapa?’
Pedahku
|
pedah + -ku
|
Iki pedahe sapa cung?
[iki pedahe sͻpͻ cʊŋ?]
‘ini sepedanya siapa Nak?
Pedahe
|
pedah + -e
|
PENANDA MORFOLOGI DALAM PROSES MODIFIKASI INTERNAL
Modifikasi internal atau
perubahan fonem merupakan proses morfologi dengan mengubah atau menambah salah
satu fonem. Pembentukan kata melalui modifikasi internal pada bahasa Jawa
dialek Rembang biasanya terjadi pada adjektiva. Modifikasi internal pada
adjektiva bahasa Jawa dialek Rembang menyatakan makna sangat. Bentuk modifikasi
internal pada bahasa Jawa dialek Rembang berupa modifikasi vokal a menjadi u,
modifikasi vokal a menjadi ua, modifikasi vokal a menjadi ia, modifikasi vokal
o menjadi uo, modifikasi vocal i menjadi ui, dan modifikasi internal
berimbuhan.
Modifikasi Vokal a menjadi u
Modifikasi vokal a menjadi u pada
kata bahasa Jawa dialek Rembang dapat dilihat pada contoh berikut ini.
abang [abaŋ]
‘merah’ = abung [abuŋ] ‘merah sekali’
lara [lͻrͻ]
‘sakit’ = laru [lͻru] ‘sangat sakit’
Modifikasi Vokal a menjadi ua
Modifikasi vokal a menjadi ua
pada kata bahasa Jawa dialek Rembang dapat dilihat pada contoh berikut ini.
ngawor [ŋawor]
‘ngawur’ = nguawor [ŋuawor]
‘ngawur sekali’
adoh [adͻh]
‘jauh’ = uadoh [uadͻh] ‘jauh’
abang [abaŋ]
‘merah’ = uabung [uabuŋ] ‘merah sekali’
panas [panas]
‘panas’ = puanas [puanas] ‘sangat panas’
Modifikasi Vokal a menjadi ia
Modifikasi vokal a menjadi ia
pada kata bahasa Jawa dialek Rembang dapat dilihat pada kata bianter [biantər] yang berasal dari
adjektiva banter [bantər] ‘cepat’.
Modifikasi Vokal o menjadi uo
Modifikasi vokal o menjadi uo
pada kata bahasa Jawa dialek Rembang dapat dilihat pada kata guoblok [guͻblͻk] ‘sangat bodoh’ yang
berasal dari kata goblok [gͻblͻk]
‘bodoh’.
Modifikasi Vokal i menjadi ui
Modifikasi vokal i menjadi ui
pada kata bahasa Jawa dialek Rembang dapat dilihat pada contoh berikut ini.
pinter [pintər]
‘pintar’ = puinter [puintər]’pintar sekali’
cilik [ciliʔ]
‘kecil’ = cuilik [cuiliʔ] ‘sangat kecil’
Modifikasi Internal Berimbuhan
Dalam bahasa Jawa dialek Rembang
terdapat adjektiva yang mengalami modifikasi internal dan afiksasi sekaligus.
Kata yang mengalami modifikasi internal dan afiksasi secara bersamaan, ditandai
dengan penambahan sufiks –e. Setelah mendapatkan penambahan sufiks –e, kata
yang mengalami modifikasi internal berubah menjadi adverbia dan nomina. Sebagai
contoh dapat dilihat pada kata berikut ini.
gobloke [gͻblͻke]
‘bodohnya’ = guobloke [guͻblͻke] ‘sangat bodoh’
adohe [adͻhe]
‘jauhnya’ = uadohe [uadͻhe] ‘jauhnya’
bantere [bantəre]
‘cepatnya’ = buantere [buantəre] ‘sangat cepat’
abange [abaŋe]
‘merahnya’ = uabunge [uabuŋe] ‘merah sekali’
panase [panase]
‘panasnya’ = puanase [puanase] ‘sangat panas’
Pemakaian kata yang mengalami
modifikasi internal dan afiksasi dalam bahasa Jawa dialek Rembang dapat terlihat
pada contoh kalimat (15), (16), dan (17) berikut ini.
Nangise buantere ra
karuan.
[naŋise buantəre ra karuan.]
‘Nangisnya sangat keras sekali.’
buantere
|
buanter + -e
|
Kata buantere ‘kerasnya’ dan puanase ‘panasnya’ pada kalimat di atas merupakan adverbia
turunan dari adjektiva. Adverbia buantere ‘kerasnya’ dan puanase ‘panasnya’
berasal dari bentuk dasar adjektiva banter ‘keras’ dan panas ‘panas’. Adverbia
yang berasal dari bentuk dasar adjektiva banter ‘keras’ dan panas ‘panas’ pada
kalimat tersebut, mengalami proses modifikasi internal dan proses afiksasi.
Setelah mengalami proses modifikasi internal dan penambahan sufiks –e, adjektiva banter ‘keras’ dan panas ‘panas’
berubah menjadi adverbia.
Demikian potret bahasa Jawa dialek Rembang dari segi morfologi.
No comments:
Post a Comment
Menawi pamaos gadhah panyaruwe, uneg-uneg, utawi pitakonan ngenani seratan menika, kula sumanggakaken komen ing ngriki. Sumangga. Maturnuwun.