| Dokar di depan masjid Lasem |
Ketika teringat salah satu alat
transportasi tradisional dokar, saya teringat juga iklan di salah satu radio di
Rembang beberapa tahun silam. Ada percakapan antara warga dengan seorang
polisi, terkait keperluan untuk mengisi data apa saya lupa. Inti percakapannnya
kurang lebih seperti ini.
“Bapak profesinya apa?”
“Saya Bajingan Pak.”
“Maaf Pak, Bapak profesinya apa?”
“Saya Bajingan?”
“Lhoh, wong iki piye leh?
Ditakoni kok. Mosok profesi Bajingan.” ‘Bapak ini bagaimana sih? Ditanya
profesi masak profesi Bajingan.’ Polisi bergumam lalu kembali bertanya, “Pak, Nuwun Sewu. Profesi Njenengan Napa? ‘Pak,
maaf. Profesi Bapak apa?’
“Lha Bapak iki piye leh? Wong
ancen profesiku Bajingan Kok. Kula niki Bajingan Pak. Dikandani bajingan kok ra
ngandhel. Kusir dokar jenenge rak Bajingan leh? ‘Bapak ini bagaimana? Orang
profesi saya memang Bajingan Kok. Saya Bajingan Pak. Kusir dokar namanya
bajingan kan? Dikasih tahu bajingan kok tidak percaya. Kusir dokar kan juga
profesi?’ “Pekerjaan saya setiap hari menjadi Kusir Dokar. Kusir kan juga
pekerjaan?”
“Eh, kusir iku jenenge bajingan?”’Eh, kusir disebut bajingan?’ yang bertanya bergumam.
Semoga sebelumnya tak ada yang berprasangka
jelek soal diksi bajingan yang saya
gunakan. Saya tidak hendak menulis tentang kejelekan seseorang dengan kata-kata
yang terkesan kasar ini, tapi yang akan saya ulas adalah mengenai transportasi tradisional
yang masih banyak beroperasi di Rembang, yaitu dokar. Dulu, kusir dokar dinamai
dengan istilah bajingan.
| Pak Kusir menunggu penumpang |
Dalam kamus bahasa Jawa Bausastra Jawa Poerwadarminta, bajinganberarti bêburuh nglakokake grobag ‘buruh yang menjalankan gerobag’. Tidak banyak
yang tahu bahwa bajingan adalah
sebutan untuk kusir dokar, sebelum saya mendengar iklan itu dan setelah tanya
beberapa teman di Rembang, saya juga tidak tahu kalau kusir dokar disebut bajingan. Dulu, sebutan lain kusir dokar
adalah bajingan. Dan tentu saja
istilah ini tidak ada hubungan dengan makna orang yang punya tabiat buruk
seperti yang diartikan sebagai bajingan padanan katanya. Di sumber lain juga
ada yang menyebutkan bahwa bajingan
juga sebutan lain untuk pengendara cikar (jaman
dulu kereta yang ditarik dua sapi yang biasa mengangkut barang).
Dokar, di
daerah lain ada juga yang menyebutnya delman, andong, bendi, atau sado. Di
beberapa daerah di Indonesia sampai sekarang masih ada kendaraan tradisional
ini. Di Lombok delman atau kereta kuda sering disebut cidomo. Sedangkan di Jawa Tengah termasuk di Rembang delman disebut
dokar. Beberapa sumber ada yang menjelaskan perbedaan istilah-istilah ini.
Perbedaannya ada pada jumlah roda dan jumlah kuda yang menarik kereta. Ada yang
beroda berbahan kayu, ada juga yang beroda mobil bekas. Jumlah rodanya ada yang
berjumlah dua bahkan lebih, dan ada yang ditarik satu sampai dua kuda. Kalau di
Rembang, dokar umumnya ditarik oleh satu kuda saja dan rodanya biasa roda yang
berbahan kayu, tapi di Lasem kemarin saya lihat juga ada yang beroda dari roda
mobil bekas.
Di Rembang
profesi Bajingan yang beroperasi dengan dokar-nya masih banyak dijumpai di jalanan. Kebanyakan
kendaraan umum ini mangkal di pasar tradisional yang berada di desa Sumberjo
Rembang. Mangkalnya dari pagi sampai sore sampai pukul tiga atau empat. Sejauh
yang saya amati dokar di Rembang kebanyakan
mangkal di sekitar pasar Rembang. Dokar
biasa membawa penumpang dari berbagai penjuru desa di Rembang menuju dan dari
Pasar. Kalau dokar di sebelah Timur
Pasar Rembang jalurnya banyak dijumpai di jalan Gajah Mada menyebrang jembatan Karanggeneng
di dekat pelabuhan Tasik Agung sampai depan tempat wisata Pantai Dampo Awang
sampai jalan jalan Kartini. Dan ada juga yang menelusuri jalan Pemuda sampai di
perempatan Nggalonan. Sedangkan yang mangkal di sebelah Barat membawa penumpang
yang mempunyai tujuan dari dan ke pasar Rembang ke arah sepanjang jalan Ks
Tubun atau sekitaran desa Sumberjo, dukuh Gayam, Sugihan, Ngrandu, Pulo,
Sendang Agung Jeruk bahkan sampai dukuh Sono dan Waru.
Umumnya memang
ada di sekitar pasar karena selain mengangkut penumpang juga mengangkut
barang-barang belanjaan. Di Lasem pun sama, sejauh yang saya amati dokar mangkal di depan masjid Jami’
Lasem atau sekitaran taman, dan sekitar pasar.
Biasanya bapak kusir
dokar mengoprasikannya sampai sore
sekitar pukul 3, di sekitar jalan pemuda bahkan sampai pukul 4 sore. Tapi
karena musim ini adalah musim bertani, bapak Kusir yang juga punya ladang di
sawah pulang beroperasi agak awal untuk bekerja menggarap sawahnya.
Sebagai Salah Satu Warisan Budaya Jawa
Naik dokar di
belakang pak Kusir dengan semilir angin dan irama sepatu kuda kadang bikin teklag-teklug ngantuk. Nah, ini yang
jadi romantisisme tersendiri kalau lama nggak
naik dokar. Lalu saya ingat lagi saat
masih duduk di bangku TK sekitar lima belas tahun silam, pernah diajari
menyanyi lagu pada hari minggu…
Pada hari minggu kuturut ayah ke
kota
Naik delman istimewa ku duduk di
muka
Duduk di samping Pak kusir yang
sedang bekerja
Mengendarai kuda supaya baik jalannya
Tuk tik tak tik tuk tik tak tik
tuk tik tak tik tuk
Tuk tik tak tik tuk suara sepatu
kuda
Di Indonesia dokar
memang sudah ada sejak berpuluh tahun silam. Konon dokar yang asal mulannya dinamai
delman di Batavia ditemukan oleh orang Belanda, Ir
Charles Theodore Deeleman, seorang insinyur yang memiliki bengkel besi
di pesisir Batavia. Oleh karena itu, masyarakat Jakarta menamainya Delman. Kemudian
masyarakat juga ada yang menyebutnya dokar yang berasal dari dog car dalam bahasa Inggris.
Dokar adalah salah satu warisan
budaya. Beberapa Raja zaman dahulu menggunakan dokar sebagai alat transportasinya.
Di Museum Monumen Yogya Kembali menyimpan dokar yang
pernah dipergunakan oleh Panglima Besar Jendral Soedirman.Di keraton
Indonesia tak akan kehilangan
akar-akar budaya jika mau melihat potensi peninggalan nenek moyangnya. Masyarakat
yang mencintai budayanya sendiri, kemudian pemerintah yang memberi ruang bagi
masyarakat dan budaya lokal agar budaya tetap bisa eksis jika dikemas dengan
menarik, dapat menarik wisatawan internasional.
Di tengah-tengah modernitas,
dokar masih beroperasi di beberapa daerah di Indonesia. Untuk jarak tempuh yang
relatif dekat, setidaknya dokar jauh lebih ramah lingkungan daripada kendaraan
bermotor.Dokar zaman sekarang hanya menjadi alat transportasi sisa-sisa
modenisasi. Di Jogja dokar masih ada di sekitar daerah malioboro sebagai
transportasi wisata sedangkan di Bali juga sudah mulai digerus oleh alat
transportasi lain. Dokar hanya menjadi alat transportasi yang diminati kaum
tua, untuk mengangkut barang menuju atau dari pasar tradisional.
Belajar Percaya dan Nriman (menerima)
dari Bapak Bajingan
Agak lama meninggalkan Rembang, beberapa
bulan kemarin saya pulang naik bus Semarang Surabaya turun di halte depan obyek
wisata Pantai Dampo Awang. Biasanya sepulang dari Semarang kalau masih pagi
untuk sampai di rumah saya memilih naik dokar menuju pasar Rembang, karena takut barangkali ada kenaikan tarif
dan pekewuh mau tanya berapa bayarnya
saya beri sepantas dengan lebih sedikit dari tarif yang dulu biasa saya berikan
pada Bapak kusir. Dan biasanya bapaknya tidak pernah melihat berapa upah yang
diberi. Tapi langsung dimasukkan ke dalam saku.
Mereka umumnya tidak memberi
tarif atau sakpawehe (diberi
berapapun diterima saja/sukarela). Jadi jika ditanya kadang ya bilangnya “sakpawehe ae”. Kebanyakan penumpang
adalah penumpang langganan yang kadang menetapkan tarif sendiri. Dan Pak kusir sejauh
yang saya amati dari dulu sampai sekarang memang tak pernah melihat berapa yang
diberikan penumpang tapi langsung diterima dan dimasukkan ke dalam saku baju.
Berbeda dengan kendaraan umum lain,
walaupun kesepakatan tarif dan permintaan harga pada kendaraan umum lain sudah
lazim dan dapat diterima sebagai balas jasa, tapi di sini Pak Kusir lain,
mereka selalu nriman. Mereka percaya
bahwa yang diterima pasti cukup. Berapapun yang diberi oleh penumpang.
***
Sumber:
No comments:
Post a Comment
Menawi pamaos gadhah panyaruwe, uneg-uneg, utawi pitakonan ngenani seratan menika, kula sumanggakaken komen ing ngriki. Sumangga. Maturnuwun.