Menjelang berakhirnya bulan Ramadhan, umat muslim di belahan dunia tentu saja tidak ingin melewatkan sepuluh hari terakhir bulan puasa. Hari di mana terdapat malam lailatulkadar yang keistimewaannya dipercaya melampaui malam seribu bulan. Di malam-malam terakhir itu, jamak dijumpai umat muslim berlomba-lomba untuk semakin mengusyukkan ibadah di malam hari. Mereka juga melakukan iktikaf, berdiam diri di dalam masjid untuk mencari keutamaan lailatulkadar.
Mengenai iktikaf, Jawa juga punya konsep tapa brata yang jika ditafsir, esensinya hampir sama dengan iktikaf. Tapa, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI Daring) berarti mengasingkan diri dari keramaian dunia dengan menahan hawa nafsu (makan, minum, tidur, birahi) untuk mencari ketenangan batin. Konsep ini dalam Islam serupa dengan iktikaf yang berarti diam beberapa waktu di dalam masjid sebagai suatu ibadah dengan syarat-syarat tertentu (sambil menjauhkan pikiran dari keduniaan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan).
Mengenai iktikaf, Jawa juga punya konsep tapa brata yang jika ditafsir, esensinya hampir sama dengan iktikaf. Tapa, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI Daring) berarti mengasingkan diri dari keramaian dunia dengan menahan hawa nafsu (makan, minum, tidur, birahi) untuk mencari ketenangan batin. Konsep ini dalam Islam serupa dengan iktikaf yang berarti diam beberapa waktu di dalam masjid sebagai suatu ibadah dengan syarat-syarat tertentu (sambil menjauhkan pikiran dari keduniaan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan).
Sejarah Islam mencatat, hal serupa pernah dilakukan
oleh Muhammad. Suatu malam, dia pernah mengasingkan diri dan beribadah di dalam
goa Hira. Di sanalah malaikat Jibril mendatangi. Menurunkan risalah kenabian
dan wahyu.
Iktikaf dan tapa jika ditafsir sebenarnya
memiliki esensi yang sama yaitu berdiam diri agar memperoleh ketenangan
sehingga dzikir dan sholat membawa pikiran kita semata hanya mengingat dan
bersama Tuhan. Bedanya, iktikaf hanya jamak dilakukan di masjid pada bulan
Ramadan.
Ajaran dalam Macapat
Tapa atau berdiam diri untuk memperoleh ketenangan,
mendekatkan diri pada Gusti ingkang
Murbeng Dumadi, merupakan upaya untuk meraih laku utama. Hal itu sebagaimana diajarkan dalam salah satu tembang
Sinom: nuladha laku utama/tumprap
ing wong tanah Jawi/ wong agung ing ngeksi Ganda/ panembahan senapati/ kepati
amarsudi/ sudaning hawa lan nepsu/ pinesu tapa brata/ tanapi ing siyang ratri/
aemangun karyenak tyasing sesama.
Laku utama yang hendaknya diamalkan orang Jawa di antaranya yaitu harus mampu
melawan hawa nafsu dan melakukan tapa brata.
Beberapa tembang macapat juga mengajarkan
untuk beribadah di malam hari. Karena
pada saat itu, para malaikat dipercaya turun ke bumi. Sebagaimana dalam cakepan tembang Asmaradana: aja turu sore turu kaki/ ana dewa nganglang
jagad/ nyangking bokor kencanane/ isine donga tetulak/ sandang kalawan pangan/
yaiku bageyanipun/ wong melek sabar narima.
Dalam pupuh kinanthi serat Wulang Reh yang
ditulis Sri Susuhan Pakubuwana IV perilaku mengurangi tidur juga termasuk salah
satu lampah dhateng saening tumindak,
laku demi kebaikan. Dadiya
lakuniraku/ cegah dhahar lawan guling/ lawan ojo sukan-sukan/ anganggowa
sawatawis/ ala watake wong suk/ nyuda prayitnaning batin. Perilaku manusia
hendaknya mengurangi makan dan tidur, tidak berfoya-foya dan menggunakan
seperlunya. Karena mengurangi kewaspadaan batin adalah watak yang tidak baik.
Selain teks tembang macapat di atas, masih
banyak lagi yang mengajarkan hal serupa. Dari hal tersebut, betapa Jawa
memiliki kekayaan khasanah ilmu yang luar biasa, yang jika ditafsir maknanya mengandung
banyak ajaran untuk kebaikan.
------------------------------
* Sumber gambar ilustrasi saking mriki.

No comments:
Post a Comment
Menawi pamaos gadhah panyaruwe, uneg-uneg, utawi pitakonan ngenani seratan menika, kula sumanggakaken komen ing ngriki. Sumangga. Maturnuwun.